Setting Cerita Rakyat harus memperhatikan konteks ruang waktu

Setting Cerita Rakyat harus memperhatikan konteksnya yaitu dalam bingkai  ruang waktu. Setting yang tepat dapat memberi pengetahuan pada pembaca tentang waktu itu dan tempat tersebut.

Setting peristiwa yang benar-benar terjadi tahun 1980, 1950. dan 1920 pun; sudah sangat berbeda dengan seting di lokasi sama, pada tahun 2013.

Tahun 1980 belum ada telepon seluler, belum ada internet. Berarti belum ada BBM, FB, Twitter, belum ada email, belum ada SMS. Generasi kelahiran tahun 1990an, sulit membayangkan kehidupan tanpa itu semua.

Tahun 1950 belum ada televisi, listrik hanya ada di kota-kota besar, jaringan telepon kabel juga sangat terbatas.

Tahun 1920 mobil baru sebatas satu dua, Indonesia belum ada, yang ada Pemerintah Kolonial Hindia Belanda. Akan tetapi, makin ke belakang, kondisi alam dan lingkungan di Pulau Jawa pun masih sangat bagus, terlebih di Sumatera, dan Kalimantan. Pengetahuan mengenai kondisi alam, lingkungan dan benda-benda ini sangat penting dalam penulisan cerita rakyat, sebab semua cerita rakyat, berlatar belakang “pada zaman dahulu kala”.

Setting dalam cerita rakyat, sebenarnya tidak bisa dibahas secara tersendiri, tanpa terkait dengan tokoh dan plot.

Tahun 1950an misalnya, tidak ada wanita yang mengenakan celana panjang. Wanita di pedesaan, atau orang-orang tua mengenakan kain dan kebaya, sementara anak-anak gadis di kota besar mengenakan blouse dan rok panjang.

Tahun 1920, tidak ada perempuan Indonesia yang mengenakan blouse dan rok, sebab itu pakaian Perempuan Belanda. Pada tiap periode zaman, pakaian masyarakatnya berlain-lainan. Bahkan pakaian di Jawa Tengah dan Di Jawa barat pun berbeda. Demikian pula dengan makanan, rumah. dan pekerjaan.

Pada zaman penjajahan Belanda, hampir semua warga masyarakat bermata pencaharian sebagai petani, peternak, nelayan, pencari hasil hutan, tukang, pandai besi, kusir kereta, kusir gerobag, pedagang, dan kaum bangsawan. Semua bisa dicirikan dengan pakaian, rumah, perabotan, dan lingkungan hidup mereka.

Setting dibawah ini masih bisa diperdebatkan karena dalam riset sejarah nusantara ada dua kubu, yaitu yang melihat nusantara seperti dibawah ini dan seolah-olah tanaman dan buah-buah yang biasa kita santap sekarang berasal dari luar, pendapat kedua justru berbeda 180 derajat bahwa sebelum kedatangan bangsa Eropa dan mundurnya Majapahit dari peradaban nusantara sudah sangat maju.

Setting sebelum kedatangan Bangsa Kulit Putih pada abad XVI, jauh sekali berbeda dengan setting sesudahnya. Waktu itu jalan-jalan hanya berpeneduh pohon asam jawa. Trembesi (ki hujan), dan mahoni belum ada. Jalan-jalan itu hanya dilewati orang berjalan kaki sambil memikul atau menggendong barang, menuntun kuda beban, oang naik kuda, kereta, atau gerobag yang ditarik sapi.kerbau. Bahan pangan hanya padi, talas, dan uwi-uwian. Jagung, singkong, ubi jalar, kentang, keladi, ganyong, garut, yang merupakan tumbuhan Amerika Latin, belum ada di Indonesia. Demikian pula dengan buah-buahan seperti nanas, pepaya, sirsak, srikaya, jambu biji, sawo manila, semua masih berada di Amerika Tropis sana. Masyarakat juga tidak ada yang merokok, sebab tembakau juga merupakan bawaan Bangsa Kulit Putih.

Di lain pihak, sungai-sungai masih mengalirkan airnya yang sangat jernih. Hutan masih ada di mana-mana, dan didalamnya berisi berbagai satwa. Mulai dari kancil, kijang, rusa, monyet, babi hutan, banteng, landak, sampai ke harimau, ular, dan gajah. Ketika bepergian melintasi hutan, masyarakat masih menghadapi bahaya binatang buas, yang sekarang sudah punah. Di lain pihak, masyarakat masih bisa berburu, menangkap ikan di sungai, atau mengambil hasil hutan. Keadaan alam ini perlu diriset lebih mendalam, agar menghasilkan deskripsi setting yang benar-benar akurat dan hidup. Bukan sekadar sebagai tempelan agar ibarat dalam pentas drama, latar belakang panggung tidak kosong.

 

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *