Sebuah Catatan Kongres Persatuan Penulis Indonesia Satupena

Telah lahir di kota Solo sebuah Asosiasi Penulis Indonesia Satupena yang digagas oleh beberapa penulis senior. Perkumpulan penulis profesional ini melengkapi sebuah asosiasi penulis  penpro.id yang telah lahir lebih dulu. Inilah catatan dari Feby Indiragi salah satu penulis di Indonesia yang menghadiri kongres tersebut.

Sebuah Catatan menghadiri Kongres Persatuan Penulis Indonesia SATUPENA

Persatuan Penulis Indonesia SatupenaPenulis Indonesia kini memiliki asosiasi profesi. SATUPENA resmi lahir di Kongres Solo, 28 April 2017 dengan dihadiri sekitar 120-an penulis. SATUPENA bisa dikatakan dibidani oleh tim inti, Hikmat Darmawan, Imelda Akmal, dan Mardiyah Chamim (urutan nama ini berdasarkan abjad). Hikmat adalah kritikus budaya yang artikelnya telah tersebar di berbagai media nasional sejak 1990-an. Imelda memiliki nama besar di genre tulisan arsitektur dengan buku-bukunya yang sepertinya nyaris selalu best seller. Mardiyah adalah wartawan senior TEMPO yang kini menjabat Direktur TEMPO Institute. Tentu saja tidak bermaksud untuk mengecilkan peran para penulis lainnya yang juga terlibat di dalam pembentukan asosiasi ini.

Sebelum bercerita lebih jauh tentang Satu Pena, saya ingin berkisah dulu tentang mengapa menurut saya ini adalah suatu capaian yang penting dalam dunia kepenulisan di Indonesia.

Sejak lama banyak penulis cenderung pesimis penulis Indonesia bisa bersatu. “Ah nggak mungkin lah bisa ada asosiasi penulis! Para penulis itu terlalu sinis satu sama lain!” ujar seorang novelis dan wartawan senior di hadapan saya dua tahun lalu. Dalam hati saya merasa sulit membantah perkataannya. Dari pengalaman saya sendiri ketika turut berjibaku menyiapkan Indonesia sebagai tamu kehormatan di Frankfurt Book Fair (FBF) 2015, saya sempat punya perasaan yang sama.

Jelang FBF 2015 itu memang terjadi konflik yang runcing, ketika sejumlah pihak mengkritisi daftar penulis yang dipilih komite untuk berangkat. Bisa dibayangkan, ini adalah kesempatan yang terbilang ‘wah’ bagi banyak penulis, mewakili Indonesia ketika kita menjadi tamu kehormatan di FBF yang entah kapan bisa terulang (itupun jika bisa terjadi lagi). Tudingan beredar di sana sini, bahwa komite tidak adil dan berpihak pada penulis atapun tema dan genre tertentu. Opini bernada tajam dan nyinyir beredar di media arus utama maupun viral di media sosial. Sebagai bagian dari komite, saya saat itu berusaha menjelaskan duduk persoalannya dan landasan yang digunakan untuk memilih nama-nama tersebut sesuai pemahaman saya. Bagaimanapun, komite tidak mungkin dapat memuaskan semua pihak.

Sebagai penulis yang bergaul di komunitas dan dunia kepenulisan di Indonesia, saya sangat bisa memahami kekecewaan maupun kritik yang muncul. Tajamnya konflik yang terjadi sejujurnya membuat saya (juga beberapa teman lain ) merasa kecut hati karena menyadari, betapa masamnya dunia kepenulisan Indonesia. Beberapa teman penulis yang saya kenal memilih menarik diri saja dari ingar bingar. Bahkan seorang penulis terpilih memutuskan tak mau berangkat, antara lain sebagai bentuk protesnya pada dunia kepenulisan yang sinis dan muram itu.

Jadi ketika akhirnya asosiasi atau persatuan penulis Indonesia SATUPENA ini bisa lahir, saya sungguh ingin menyatakan salut. Percakapan tentang pentingnya penulis memiliki wadah ini seingat saya muncul pasca perhelatan FBF Oktober 2015. Sebagian penulis yang berangkat ke FBF itu mulai kian merasakan betapa pentingnya berorganisasi agar bisa memperjuangkan kepentingan penulis, misalnya terkait urusannya dengan pemerintah atapun berdiri sama tegak dengan penerbit yang sudah lama memiliki IKAPI. Percakapan muncul antara lain dari Imelda, Hikmat, Dee Lestari, Ahmad Fuadi, juga rekan-rekan lain.

Saya –yang termasuk geng pesimis meski tak mau kelihatan sinis-- hanya memantau dari kejauhan dan sesekali mendengar kabar perkembangannya. Adalah suatu yang menggembirakan ketika kelahiran asosiasi penulis ini mendapat dukungan penuh dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). Kesiapan para penulis untuk melahirkan asosiasi resmi dideklarasikan pada Borobudur Writers Festival 2016. Sejak itu pula gagasan asosiasi ini terus bergulir, dan saya mendengar nama Mardiyah mulai kerap disebut. Sejumlah nama lain mulai bermunculan kemudian. Penulis senior seperti Eka Budianta, Nasir Tamara, Langit Kresna Hadi, juga sejumlah nama lainnya. Para penulis dan penggiat literasi dari luar Jawa juga sudah dilibatkan, seperti Neni Muhidin dari Palu dan Heri Budiman dari Pekan Baru. Masih banyak lagi penulis lainnya, dan bila saya lalai tak menyebutkannya di sini, saya minta maaf, itu semua semata karena kurangnya pengetahuan saya dan bukan karena kecilnya peran nama-nama itu. Sebagian nama lain terdengar datang dan pergi, mungkin karena kesibukan masing-masing atau takaran optimisme yang beragam. Sedikit demi sedikit, akhirnya tim semakin soilid terbentuk dengan segenap dinamikanya.

“Saya senang sekali dengan kerjasama kami bertiga ; saya, Hikmat dan Mardiyah,” kisah Imelda di depan forum. “Saya selalu mengingatkan tentang keberagaman genre, Hikmat selalu memastikan keterwakilan seluruh daerah, Mardiyah mengingatkan hal-hal penting lainnya, jadi kami itu tim yang baik dan saling melengkapi. Kerja berlangsung dengan lancar meskipun jarang bertemu.”

Tema yang diangkat di kongres pertama ini, Menulis untuk Kebhinekaan, terasa tepat. Pas dengan genre di dunia menulis yang kini semakin beraneka, pas mengingat betapa kayanya budaya di Nusantara, dan pas dengan situasi sosial politik saat ini dimana ada sebagian orang yang melukai kebhinekaan kita dengan menonjolkan identitas kelompok tertentu demi memenangkan agenda mereka. Dari sisi genre, ada sastra, kuliner, anak, sejarah, arsitektur, fashion, memoar dan sebagainya. Keterwakilan wilayah pun hadir dari Sumatera hingga Papua.

Ternyata Kita Betul-Betul Bhineka!

Itulah kesan yang saya dapatkan ketika berkenalan dan mendengar cerita teman-teman peserta kongres yang berkesempatan untuk bicara di forum maupun ngobrol personal.

Senang sekali saya bisa berkenalan dan mendengar pengalaman teman-teman baru sesama penulis itu. Sayangnya saya datang terlambat ke kongres yang berlangsung di Solo 26-29 April 2017 tersebut karena sebelumnya menghadiri acara lain di kota berbeda. Saya tiba di hari ketiga, 28 April, tepat sebelum berlangsungnya voting untuk ketua, tim etik dan tim formatur. Sebelum saya datang, kedua calon ketua, Nasir Tamara dan Imelda Akmal sudah berkampanye. Setelah makan siang forum tanya jawab pun dibuka. Pertanyaan yang muncul dari para peserta rata-rata berbobot dan kritis, juga menyiratkan harapan yang besar untuk masa depan asosiasi ini—sempat membuat saya berpikir seolah ketua diharapkan sebagai manusia super. Atas proses pemilihan yang demokratis, Nasir Tamara, wartawan senior penulis buku Revolusi Iran yang belum lama diterbitkan ulang oleh KPG terpilih sebagai Ketua Persatuan Penulis Indonesia SATUPENA.

Malam harinya, ada acara peluncuran buku kumpulan tulisan proses kreatif sejumlah penulis yang telah bergabung di SATUPENA, juga sejumlah penulis yang meluncurkan buku mereka masing-masing. Rasanya saya ternganga karena takjub menyaksikan betapa beragamnya tema yang diangkat oleh teman-teman ini, dan hati saya diliputi syukur karena semua karya itu yang memperkaya khasanah pemikiran dan penulisan kita. Perasaan itu berlanjut ketika esok harinya sejumlah penulis lain tampil di panggung untuk mengemukakan usulan program dari masing-masing bidang, seperti riset dan edukasi, usaha, humas, dan legal (pembicaraan per bidang dilakukan secara berkelompok di tanggal 27 April).

Beberapa usulan terdengar menarik, beberapa lainnya terasa terlampau melambung. Mungkin kerinduan untuk hadirnya wadah seperti SATUPENA yang bisa menyatukan semua potensi penulis ini sudah terpendam begitu lama. Hal itu juga sepertinya dipicu kekecewaan yang muncul dari pengalaman bekerja sebagai penulis, yang kerap memiliki persoalan kesejahteraan, konflik dengan lembaga penerbitan, kesulitan memasarkan karya dan lain sebagainya.

Percakapan-percakapan yang tercipta di forum membukakan mata saya akan sejumlah isu penting yang selama ini kerap diabaikan, misalnya bagaimana penulis mesti memiliki pemahaman legal untuk membaca kontrak, bagaimana penulis seharusnya bisa memiliki jamsostek untuk menjamin kesejahteraan di hari tua, bagaimana penulis harus bersikap ketika karyanya di-bully sebagian kelompok dan lantas ditarik penerbit, bagaimana penulis bisa maju bernegosiasi dengan pemerintah untuk perkara pajak buku yang mencekik, dan masih banyak lagi. Semua hal tersebut tidak mungkin dapat diperjuangkan individu per individu, melainkan hanya dapat dilakukan ketika penulis bersatu dan memiliki wadah organisasi.

Wah, dipikir-pikir kemana saja ya penulis selama ini, kenapa tidak kunjung berorganisasi seperti profesi dan bidang usaha lainnya? Berorganisasi membuat penulis kini bisa diperhitungkan dan hadir dalam peta negosiasi dengan para pihak terkait dan membuat posisi penulis jadi jauh lebih berdaya. Mendasar kan? Para penulis ini tentu banyak yang sudah bergabung dengan organisasi lainnya untuk kepentingan atau area kehidupan lainnya. Tapi selama ini saya dan sebagian penulis lainnya justru luput mengurusi diri kami sendiri.

Asosiasi itu akhirnya lahir, dan babak baru pun dimulai. Kepengurusan belum lagi resmi dibentuk. Segalanya dimulai dari nol, meskipun sama sekali bukan kosong. Seluruh potensi itu berada, dan siap dikelola. Tantangan dan Peluang. Jalan yang masih teramat panjang.

Saya memandangi wajah-wajah di dalam ruangan itu, yang telah, sedang dan akan melahirkan begitu banyak cerita. Ada yang begitu percaya diri. Ada yang tak menyadari betapa ia tampak amat mampu. Beberapa sungguh lucu--membuat saya bercanda mengatakan ‘apakah ini asosiasi pelawak?’. Beberapa lainnya terlalu serius. Begitu beragam. Begitu kaya.

Selamat kepada Persatuan Penulis Indonesia Satupena.

Leave a reply "Sebuah Catatan Kongres Persatuan Penulis Indonesia Satupena"