Riset penulisan cerita rakyat dilakukan sebelum melakukan penulisan.

Menulis cerita rakyat, ada sisi kemudahannya, ada pula sisi sulitnya. Kemudahannya adalah, karakter tokoh, alur besar, dan setingnya sudah sangat jelas. Kita tidak boleh menyimpang dari tiga hal yang sudah dikenal masyarakat tersebut. Kita tidak mungkin mengubah tokoh Nyai Roro Kidul menjadi berkelamin laki-laki, dalam dongeng kancil, kancilnya kita biarkan dicaplok harimau, atau setting Sangkuriang kita pindahkan ke Padang. Yang bisa dilakukan seorang penulis hanyalah mengikuti karakter tokoh, alur cerita, dan seting yang sudah ada. Dari kerangka besar itu, penulis cerita rakyat harus berkreasi untuk menciptakan detilnya. Di sinilah kreativitas penulis ditantang, hingga cerita yang dihasilkannya bisa dinikmati oleh masyarakat pada zamannya. Salah satu kesulitan utama penulis cerita rakyat adalah, menerjemahkan kejadian-kejadian masa silam, untuk pembaca yang hidup pada zaman sekarang.
Menghimpun ide (memilih cerita rakyat), untuk ditulis ulang, sangat sederhana. Ada banyak sekali cerita rakyat yang bisa diambil, untuk ditulis ulang. Yang memerlukan perhatian ekstra adalah mengumpulkan bahan untuk mengisi karakter tokoh, alur cerita, dan setting.

Zaman ketika peristiwa berlangsung, misalnya zaman prasejarah, zaman Hindu, zaman VOC, Penjajahan Belanda, atau sesudahnya, menjadi patokan untuk mendetilkan karakter tokoh, plot, dan seeting. Berdasarkan penentuan zaman, kita bisa mencari informasi, seperti apakah setting alam, dengan flora dan faunanya, bangunan rumah, perabotan (termasuk perangkat musik), pakaian, makanan, dan adat istiadat.

Riset seperti itu tidak mudah, tetapi tetap bisa dilakukan. Sebelum era digital, riset seperti itu harus dilakukan dengan datang langsung ke perpustakaan. Sekarang riset bisa terbantu karena sebagian besar data, bisa kita peroleh dari berbagai situs di dunia maya. Tuntutan yang “terlalu berat” untuk melakukan riset ini, memang mutlak. Kalau para guru merasa keberatan untuk melakukannya, memang wajar. Sebab kerja guru bukan untuk menulis cerita rakyat, dengan didahului oleh riset. Para penulis cerita rakyat profesional pun, banyak yang malas melakukan riset. Hingga ketika cerita itu diangkat menjadi sinetron, tampak banyak hal yang kedodoran. Misalnya: Pasukan Pajajaran menyerbu Majapahit dengan naik kuda. Padahal pada zaman VOC pun, pasukan Sultan Agung menyerbu Batavia dengan naik kapal dari Semarang, menyertakan anak muda Tegal sebagai juru masak, lalu mendarat di Karawang.

BACA   Membuat Toko Online Berbasis Wordpress

Di Karawang, tentara Sultan Agung bukan langsung perang, melainkan membuka lahan untuk menanam padi, sebagai bahan logistik. Setelah punya logistik, baru mereka mendekati Batavia, dan membangun basecamp di Mataraman (Matraman). Baru mereka memulai perang menyerbu Batavia. Ketika mereka kalah, juru masak anak-anak muda dari Tegal tidak mau pulang, dan sampai sekarang keturunan membuka warung tegal (warteg). Sawah peninggalan Sultan Agung di Karawang, sampai sekarang tetap menjadi “lumbung padi” nasional. Itulah fakta sejarah, hingga tidak mungkin pada zaman Majapahit bisa jalan darat dari Jawa Barat ke Jawa Timur. Jalan darat itu baru dibangun oleh Herman Willem Daendels, yang berkuasa di Jawa antara 1808 – 1811.

Tugas para guru, sebenarnya hanya mengajar murid, agar ketika menulis cerita rakyat, didahului dengan riset. Hingga sejak awal, anak dibiasakan melakukan riset untuk apa pun: membuka usaha, bertani, dagang, termasuk menulis cerita rakyat. Riset bagi anak masih merupakan sesuatu yang baru diperkenalkan. Maka idealnya, mereka bekerja dalam kelompok minimal tiga orang. Setelah kelompok terbentuk, mereka harus menentukan pilihan cerita rakyat yang akan ditulis. Satu cerita boleh dipilih oleh lebih dari satu kelompok, sebab dalam tugas ini anak-anak boleh nyontek. Langkah berikutnya mereka menentukan kapan cerita itu terjadi, dan mulai meriset, kira-kira seperti apakah setting cerita tersebut.

Apabila hal ini dilakukan, maka secara otomatis “muatan lokal” yang dituntut oleh kurikulum, bisa diserap oleh anak, untuk ditampilkan ke tingkat nasional. Hasil dari kerja anak-anak ini, setelah diseleksi bisa diterbitkan untuk dipasarkan secara nasional pula. Atau diikutkan dalam lomba, hingga terjadi kompetisi yang sehat antar daerah. Hasilnya, anak-anak, bahkan juga masyarakat Indonesia, bisa mengenal khasanah budaya cerita rakyat, dari seluruh pelosok tanah air. Hal yang ideal ini baru akan bisa tercapai, apabila kerja menulis cerita rakyat didahului dengan riset untuk memperkuat settingnya. Bukan sekadar menggarap tokoh dan plot.


Visikata

Sekolah Online Visikata: Belajar Menulis Online, Pelatihan Penulisan Online, Membuat Web Bisnis

0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published. Required fields are marked *