Kelas Menulis Fiksi Anak | Angela dan Petualangan Kecilnya

Cuplikan salah satu karya “Sayuri Yosiana” dari  pelatihan “Menulis Cerita Anak” di Sekolah Online Visikata dengan mentoring Glory Gracia Christabelle. Selamat membaca

Angela dan Petualangan Kecilnya

Angela berlari-lari kecil menyusuri jalan setapak di sepanjang lorong kota tua di sudut kota Marbella yang cantik. Pipinya bersemu merah, kedua tangannya penuh dengan bunga-bunga liar yang dipetiknya di kaki bukit Kupu-Kupu, sebutan para warga kota untuk bukit kecil di sebelah utara. Matanya berkejap-kejap menahan pancaran mentari di pagi hari yang cerah itu.

Tiba-tiba, gubrak!

gb. Film Heid
gb. Film Heidi

Kakinya terantuk batu-batu kerikil yang bertebaran di sudut lorong yang mulai melebar. Angela meringis. Bunganya berserakan di jalan, dan lututnya agak memar. Seorang kakek menghampirinya sambil menggunakan tongkat.

“Mengapa kau, Nak? Sakitkah? Coba kakek lihat apakah ada yang terluka.”

Sang kakek membantu Angela berdiri, wajah gadis cilik itu hampir menangis. Namun dia membiarkan si kakek yang baik hati itu menolongnya. Biasanya Angela tak suka ada orang asing yang memegangnya. Dia terkenal pendiam dan pemalu di lingkungannya.

Sang kakek tersenyum lega. Di usap-usapnya kepala Angela sambil berkata, “Tak ada luka serius, Nak. Hanya lututmu yang harus diobati sedikit. Agaknya kau hanya kaget tadi. Mengapa berlari begitu cepat? Tak lihatkah banyak batu-batu yang berserakan di sepanjang jalan ini?”

Angela hanya menggelengkan kepala sambil memunguti bunga-bunga liarnya. Ah, bunga-bunga ini tak apa-apa kok, batinnya sedikit lega.

Setelah terkumpul semua bunga yang dipetiknya di bukit Kupu-Kupu tadi, dia menganggukkan kepalanya ke arah di kakek yang masih berdiri di dekatnya. Angela tak lupa mengucapkan terima kasih sambil tersenyum tipis.

Sang Kakek tertawa. “Nah, sebaiknya kau berjalan saja kalau rumahmu sudah tak jauh dari sini, Nak. Di manakah rumahmu? Sepertinya aku belum pernah melihatmu di lingkungan ini.”

Angela menatap Kakek yang baru dikenalnya, sebelum akhirnya menjawab.

“Aku baru tiba di sini seminggu yang lalu, Kek,” jawab Angela malu-malu. “Aku menengok Tante Michelle yang baru melahirkan anaknya. Namanya Jessica. Kan sekolahku sedang libur.”

 

Komentar.

(Komentar-komentar di cuplik dari Facebook sang penulis yang memposting karyanya dalam bentuk note)

Hudanocs Hudan.:

Sudut cerita ini memang datang dari sudut seorang anak, juga tentang dunia anak. tapi saya merasakan dunia anak sudah dilewati oleh sastrawan berbakat besar ini – sayuri yosiana. dunia anak hanyalah latar belaka, dan cerita ini sebenarnya tak ada ceritanya. membaca cerita ini langsung saya teringat cerpenis terkenal kita itu – umar kayam, dengan seribu kunang kunang di manhattan.

Dan sejujurnya saya katakan, bahwa cerita ini telah mengatasi cerita kayam dengan langgam penceritaannya pada alam – kayam pada alam metropolitan, sebuah kota raksasa bernama new york. sedang yura pada alam pinggiran kota.

Saya membacakan nyamannya manusia bersatu dengan alam dalam cara sang pengarang menggambarkannya – seolah tiap kata dalam cerita ini telah menjadi imaji dalam puisi….

Saya juga menangkap kekosongan yang hampa mengendap dalam bulir bulir kisah dalam cerita. bahwa kerinduan sang aku di sini, aku dari sang pengarang, aku yang bisa kita jadikan suatu dunia representasi kehilangan bagi orangdewasa, telah melebur dalam sepanjang kisah: membawakan kekosongan, kehampaan, tapi juga kemesraan kemanusiaan yang datang dari ia yang pandai menangkap hidup – sang pengarang itu sendiri, yang telah memecah menjadi aku narator dalam cerita ini.

Sungguh hebat sekolah online itu, yang telah menghasilkan pengarang seperti ini. dan semakin menebalkan keyakinanku sendiri, bahwa banyak sekali sastrawan di dunia maya ini, yang kualitasnya sudah tidak ada beda lagi dengan sastrawan terbaik di negeri ini.

Saya akan mengambil cerpen ini, yura, untuk kandidat cerpen yang akan kami muatkan di jurnal sastra tuhan hudan edisi cetaknya….

Untuk hal semacam ini, naskah yang diambil, bagi saya bukanlah suatu yang tabu di buka ke depan publik. toh apa yang kita banyak mendengar suatu keluh, akan ketakjelasan mengapa cerita itu dimuat, sedang cerita ini tidak, dalam media massa kita yang memuat ruang budaya itu.

Imam Setiaji Ronoatmojo:

Saya jg yakin anda akan jd penulis yg hebat di masa akan datang..alangkah bahagianya bila bisa menciptakan karya..saran saya terus gali penghayatan terhadap ruh penulisan..yang mengatasi logika bahasa dan tetek-bengek mengenai gaya..ini persis yang kau-ungkapkan dlm statusmu tempohari..klu tdk salah suatu “inner journey” perjalanan ke dalam..penghayatan thd setiap inci kepedihan manusia/kesepian manusia/kesunyiannya..raih spiritnya..endapkan dalam keranjang bunga-mu..seperti Angela..jangan takut jatuh ya..tdk perlu berlari cepat tetapi langkah yg pasti..dan jngn bosan2 sharing

Anita Rachmad

Penggambaran suasana dan detil detilnya sungguh hidup.  Daku seperti tersedot dalam beberapa menit saat mendaki kata per kata cerpen ini. bagus sayuri yosiana

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *