Aku Ingin Bersekolah di Sekolah Tomoe!

Kau benar-benar anak baik, Kau tahu itu kan? Kalimat tersebut diucapkan oleh seorang pendidik bernama Sosaku Kobayashi pada Totto-chan, seorang murid kelas 1 SD yang dicap nakal dan dikeluarkan dari sekolahnya terdahulu. Sungguh kalimat yang sederhana, namun berpengaruh besar pada kehidupan Totto-chan selanjutnya. Untuk pertama kalinya, Totto-chan yang dianggap ‘gadis cilik aneh’ oleh orang di sekitarnya merasa diterima apa adanya. Karena itulah, ia menulis sebuah buku autobiografi tentang masa kecilnya di Tomoe Gakuen (Sekolah Tomoe) yang didirikan oleh Kobayashi-san.

totto-chanBuku autobiografi masa kecil Tetsuko Kuroyanagi, alias Totto-chan, meledak di berbagai negara sebagai best-seller. Di Indonesia sendiri, buku ini sudah dicetak berkali-kali dan ramai dibicarakan. Buku Totto-chan Gadis Cilik di Jendela pernah diterbitkan oleh dua penerbitan yang berbeda yaitu Penerbit Pantja Simpati dan Gramedia Pustaka Utama.

Buku ini dapat dinikmati dari berbagai sudut pandang. Forum Diskusi Penakom mengupas buku Totto-chan Gadis Cilik di Jendela di TB Gramedia Matraman lantai 3, 11 Januari 2004, 14.00 WIB. Hadir Hermawan Sulistyo selaku editor Buku Totto-chan versi Penerbit Pantja Simpati, juga Widaya Kirana selaku penerjemah dan Indah selaku editor Buku Totto-chan versi Penerbit Gramedia Pustaka Utama.

Dari hasil diskusi, diketahui bahwa dalam menerjemahkan buku asing, seorang penerjemah harus memahami konteks yang sedang dibicarakan dan budaya asal buku tersebut. Dari sudut penggunaan bahasa, Penakom melihat penuturan kisah Totto-chan dilakukan melalui sudut pandang Totto-chan selaku seorang anak SD. Adapun pendapat-pendapat Tetsuko Kuroyanagi yang muncul setelah ia dewasa selalu dikemukakan dengan diawali kata yang menunjukkan arti ‘kelak’, sehingga antara sudut pandang Totto-chan dan Tetsuko Kuroyanagi (baca: Totto-chan dewasa) dapat dibedakan dengan jelas.

Selain dari sudut penggunaan bahasa, Hermawan Sulistyo juga menganggap buku ini sangat aplikatif sehingga bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Contohnya adalah penerapan Buku Totto-chan dalam hubungannya sebagai orang tua dengan anak-anaknya dalam kehidupan sehari-hari secara nyata.

Hal menarik yang dapat diungkap dari Buku Totto-chan dapat dilihat juga oleh peserta diskusi Penakom dari sudut pandang penulisan cerita. Sebagai sebuah cerita, kisah ini dapat dinikmati sebagai buku nonfiksi sekaligus buku fiksi. Alurnya yang mengalir dengan lancar dan begitu pandai dalam memainkan emosi pembaca memberikan inspirasi tersendiri bagi para penulis pemula untuk mempelajari gaya penuturan Tetsuko Kuroyanagi.

Sisi menarik lainnya dari Buku Totto-chan yang diungkap dalam diskusi adalah sudut pandang pendidikan. Metode pengajaran yang dilakukan di Sekolah Tomoe merupakan salah satu perwujudan dari metode pengajaran humanistik. Metode pengajaran humanistik, mengacu pada teori dari Carl Rogers, menempatkan murid sebagai pusat pengajaran (student centered learning) secara manusiawi dan unik. Artinya, acuan yang digunakan untuk menjalankan pengajaran di sekolah tidak terletak pada selesai atau tidak selesainya materi sesuai kurikulum, atau bagaimana guru harus terus-menerus dipatuhi, melainkan mengacu pada pemenuhan kebutuhan masing-masing siswa akan pengetahuan.

Metode pengajaran humanistik memandang murid bukan sebagai obyek dari suatu sistem pengajaran melainkan subyek yang dilayani oleh suatu sistem pengajaran. Titik beratnya adalah perkembangan emosional siswa (Lefrancois, 2000). Dalam buku Totto-chan, pendidik di Sekolah Tomoe mengajak murid-muridnya belajar dengan rasa senang. Misalnya adalah acara jalan-jalan yang dilakukan sesudah makan siang. Tanpa disadari para murid, mereka belajar tentang biologi, sejarah, dll. Mereka mempelajari bagaimana setangkai bunga tumbuh, bagaimana kisah sejarah dari tokoh-tokoh sejarah Jepang, dll. Dengan kegiatan yang menyenangkan dan tidak monoton, murid Tomoe dapat menyerap ilmu pengetahuan yang diberikan dengan cepat dan terus mengingatnya dengan baik.

Tampak jelas bahwa penerapan metode pengajaran humanistik di Sekolah Tomoe berlangsung dengan sangat baik. Ulasan ini dapat menjadi masukan untuk membuka wawasan dunia pendidikan di Indonesia. Bagi sebagian orang, Sekolah Tomoe adalah wujud nyata dari sekolah impian yang diinginkan. Pergi ke sekolah dengan penuh rasa cinta dan gembira, itulah kesehari-harian murid Tomoe. Berapa banyak murid Indonesia yang pergi ke sekolah dengan penuh rasa cinta dan gembira? Mungkin ada baiknya kita meninjau ulang dan mengevaluasi kurikulum serta metode pengajaran di Indonesia.

Dengan tangannya sendiri, Kobayashi-san berhasil mewujudkan sekolah impiannya di Jepang, bahkan saat perang dunia kedua, berpuluh-puluh tahun yang lalu. Apakah sekolah berbasis pendekatan humanistik seperti Sekolah Tomoe dapat terwujud di Indonesia tercinta ini atau hanya tinggal impian semata? Untuk menciptakan pendidikan yang humanistik diperlukan pendidik yang humanistik pula. Sudah siapkah kita?

Ulasan Buku Totto-chan Gadis Cilik di Jendela
Oleh G. G. Christabelle, S. Psi

One Comment

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *